Jangan buru-buru membayangkan grup musik Banda Neira yang biasa kalian dengarkan melalui pemutar musik, ya. Kali ini, Banda Neira merujuk pada sebuah pulau di Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Secara administratif, Kepulauan Banda terbagi menjadi enam desa, yakni Dwiwarna, Kampung Baru, Merdeka, Nusantara, Rajawali, dan Tanah Rata. Meskipun bukan merupakan pulau terbesar, Banda Neira memiliki pemandangan alam yang tidak boleh kalian lewatkan, lho!
Ada dua akses yang bisa kalian capai untuk mengunjungi Kepulauan Banda, yakni melalui udara atau laut. Apapun jalur yang dipilih, kalian harus terlebih dulu datang ke Ambon. Apabila memilih jalur udara, ada pesawat berkapasitas 25 orang yang berangkat dari Ambon pada pukul 07.00 WIT. Perjalanannya hanya memerlukan waktu sekitar satu jam. Harga satu tiket pesawatnya bisa mencapai Rp 300.000-Rp 500.000. Tapi, perlu dicatat bahwa penerbangan dari Ambon ke Banda Neira hanya dilakukan sebanyak 6-8 kali dalam sebulan.
Kalau ingin menempuh jalur yang lebih murah, kalian bisa menggunakan kapal laut penumpang milik Pelni. Ada dua kapal yang tersedia dalam perjalanan menuju Banda Neira, yakni Kelimutu dan Tidar. Harga tiket untuk keduanya sama, yakni Rp 97.000 untuk kelas ekonomi, Rp 282.000 untuk kelas II, dan Rp 343.000 untuk kelas I. Masing-masing kapal hanya berlayar sekali dalam dua minggu. Biasanya kapal Pelni akan berangkat dari Pelabuhan Ambon pada pukul 18.00 WIT. Kalian harus menyiapkan energi lebih karena perjalanan menggunakan kapal Pelni bisa memakan waktu selama 8-12 jam.
Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, Banda Neira sempat menjadi salah satu pusat perdagangan rempah-rempah, seperti cengkeh dan pala. Peninggalan masa pemerintahan tersebut bisa kalian saksikan melalui bangunan berasitektur Eropa, membuat kalian seolah sedang berada pada abad 17. Karena banyaknya bangunan serupa di pinggir jalan, sebaiknya kalian berjalan kaki atau menggunakan sepeda untuk menjelajah Banda Neira. Salah satu bangunan yang paling terkenal adalah Istana Mini Neira. Di sekitarnya, terdapat rumah-rumah berukuran besar yang dulu digunakan sebagai tempat tinggal para petinggi orang Eropa yang datang ke Banda Neira.
Nilai historis Banda Neira tidak hanya muncul pada aspek arsitekturnya. Dulu, beberapa tokoh perjuangan Indonesia, seperti Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Dr. Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri pernah diasingkan di Pulau banda Neira. Hingga kini, rumah pengasingan tokoh-tokoh tersebut masih terawat dengan cukup baik dan bisa dikunjungi sebagai salah satu situs sejarah.
Tidak lengkap jika kalian traveling ke Pulau Banda Neira tanpa mengunjungi Benteng Belgica, sebuah benteng VOC yang dibangun di atas sebuah bukit. Lokasinya berada di sebelah barat daya Pulau Banda Neira dengan ketinggian 30 meter di atas permukaan laut. Benteng Belgica dibangun pada tahun 1611 oleh Gubernur Jenderal Pieter Bot. Bangunannya berbentuk persegi lima dengan konstruksi yang hanya terdiri dari dua lapis. Untuk memasukinya, kalian harus menaiki anak tangga. Di bagian tengah, terdapat ruang terbuka luas yang dulu digunakan sebagai tempat para tahanan. Dari sana, kalian bisa melihat dua sumur rahasia yang konon terhubung dengan pelabuhan dan Benteng Nassau di tepi pantai.
Awalnya, Benteng Belgica merupakan bangunan peninggalan Portugis yang berfungsi sebagai pusat pertahanan. Namun, pada masa penjajahan Belanda, fungsinya pun beralih untuk memantau lalu lintas kapal dagang. Sempat diperbesar pada tahun 1622 dan 1667, Benteng Belgica akhirnya dipugar dan dijadikan makas militer Belanda hingga tahun 1860. Pada setiap sisi benteng, terdapat menara yang bisa kalian naiki melalui anak tangga.
Tidak jauh dari Benteng Belgica, terdapat sebuah gunung api dengan tinggi 656 meter dari permukaan laut. Gunung api tersebut dikelilingi oleh hamparan laut berwarna biru jernih. Nah, salah satu tujuan orang-orang berkunjung ke Banda Neira adalah untuk menikmati pemandangan bawah lautnya melalui aktivitas diving atau snorkeling. Ternyata, kekayaan alam bawah laut di Banda Neira tidak terlepas dari aktivitas gunung api tersebut.
Pada tahun 1988, Gunung Api Laut Banda Neira pernah meletus. Lava panas yang keluar dari letusan tersebut mengalir ke dasar laut dan menghancurkan terumbu karang yang berada di sekitar gunung api. Menariknya, hal tersebut justu berpengaruh pada sistem pertumbuhan terumbu karang yang diklaim paling cepat di dunia, dengan beragam jenis karang dan biota laut yang mempesona.
Kalau kalian jadi tertarik untuk traveling ke Kepulauan Banda melalui jalur udara, sering-seringlah melakukan browsing karena jadwal penerbangan cukup sering berganti. Tidak apa-apa jika kalian terpaksa menginap di Kota Ambon. Ada cukup banyak hotel yang berdiri di sana. Selamat menjelajahi Banda Neira!
No comments:
Post a Comment